DEKLARASI ROMA: Komitmen untuk Menjaga Kemajemukan Indonesia

DEKLARASI ROMA: Komitmen untuk Menjaga Kemajemukan Indonesia

ROMA,PGI.OR.ID-Dialog Antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa yang berlangsung sejak 30 Juni-2 Juli 2018 di Villa Aurelia, Roma telah mengeluarkan apa yang disebut dengan DEKLARASI ROMA. Deklarasi tersebut merupakan kesepakatan dan komitmen dari perwakilan diaspora Indonesia dari 22 negara di Eropa.

Deklarasi Roma berisi 8 poin, yaitu pertama, kemajemukan agama, suku, budaya dan bahasa adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa bagi masyarakat Indonesia dan keniscayaan yang harus dipelihara, dijaga dan dikembangkan bersama. Kedua, Indonesia dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibangun atas dasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 adalah “rumah bersama” dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus dirawat.

Ketiga, tenggang rasa dalam kemajemukan masyarakat Indonesia menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama, karena kerukunan hidup bersama di Indonesia menjadi rujukan dan contoh bagi dunia internasional. Keempat, kesungguhan hati dan keterbukaan sikap dalam semangat kebersamaan, gotong royong, saling pengertian, penghargaan, dan persaudaraan dari pemerintah dan semua anak bangsa hendaknya diwujudkan secara berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, agar masyarakat Indonesia tidak menggunakan agama dan simbol keagamaan demi kekuasaan politik sementara. Keenam, semua umat beragama untuk mampu menampilkan wajah yang ramah dan terbuka dalam semangat persaudaraan keimanan, keindonesiaan dan kemanusiaan. Ketujuh, kendati berbeda agama, seluruh anak bangsa Indonesia terikat dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air, karena semua berasal dari rahim ibu pertiwi Indonesia.

Kedelapan, semua masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh dunia perlu membentuk komunitas-komunitas-komunitas lintas agama yang terbuka untuk saling bekerjasama dalam kehidupan sehari-hari.

Dialog Antaragama Masyarakat Indonesia di Eropa digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan. Hadir sebagai nara summer yaitu Prof Dr Din Syamsudin, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban; Sekjen Kemenag, Prof Dr. H. Nur Syam, Dewi S. Wahab, staf ahli Menlu bidang Sosbud dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri. Hadir pula Dubes Indonesia untuk Italia, Malta dan Siprus, Esti Andayani, dan Dubes Indonesia untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi, Dr Ferrimeldi dan Dr Ubaidillah dari Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kemenag.

Sejumlah pimpinan aras nasional juga menjadi nara sumber dalam kegiatan ini, yaitu Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang (PGI), Prof. Abdul A’la (Islam), Mgr. Dr. Andarianus Sunarko (Katolik) ), Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (Hindu), Peof. Philip K. Widjaja (Budha), dan Uung Sendana Lodianto (Matakin). Para pimpinan agama diminta membagi pandangan dan pengalaman menyangkut toleransi di Indonesia. Sementara Prof. Dr. Din Syamsudin mensosialisasikan hasil Mubes Tokoh Agama Februari 2018.

Peserta hadir dari berbagai negara seperti Belgia, Austria, Hongaria, Polandia, Bosnia, Rusia, Belanda, Yunani, Portugal, Spanyol, Italia, Vatikan, Inggris, Perancis, Swiss, Kroasia, Finlandia, Swedia, Norwegia, Denmark, Turki, Slovakia, Bosnia, dan Ukrania.

Dari setiap kedutaan diminta mengirim 2 orang dari agama yang berbeda. Cukup banyak peserta Kristen dan Katolik. Ada yang menamakan komunitas Kristen Katolik, ada juga yang menamakan diri Persekutuan Oikoumene, dan ada juga PERKI

Sumber : pgi.or.id

Posted in

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *